JAKARTA, Probusmedia — Peneliti dari Lembaga Riset Internasional untuk Lingkungan dan Perubahan Iklim Institut Pertanian Bogor (IPB) Rizaldi Boer mengatakan seharusnya peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah bisa diantisipasi sejak 6 bulan sebelum kebakaran melanda wilayah tertentu.
Rizaldi menjelaskan di awal bulan April dan Mei 2026, kekeringan sudah diprediksi akan terjadi. Sebab, kekeringan bisa didiagnosis melalui anomali El Nino yang ekstrem dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
IOD positif jika menguat bersamaan dengan el nino, maka pihak tersebut akan memutus pasokan uap air dari Samudra Hindia.
“Kalau dia sama-sama positif ketemu dan terjadi bersamaan maka itu akan terjasi komdisi kering yg sangat luar biasa,”
ujar Rizaldi Boer dalam diskusi publik mengenai kesiapan penanggulanagan, hukum, dan penganggaran penanganan karhutla, Sabtu (5/9/2026).
Seharusnya, kata Rizaldi, negara sudah bisa memanfaatkan teknologi yang ada untuk mendeteksi adanya kebakaran hutan dan lahan. Namun, dia menganggap masih belum ada pemanfaatan yang dilakukan secara optimal untuk mencegah karhutla.
“Di situlah persoalannya, banyak kendalanya banyak ditolak kelembagaan dan juga sistem pendanaan,” kata dia.
Sehingga pencegahan terjadinya karhutla mengalami keterlambatan. Padahal sudah ada sistem yang sebenarnya bisa mengakses potensi terjadinya kebakaran.
“Tinggal kita yang menetapkan potensi berapa kalau kita katakan potensi kalau misalnya probabiliti sudah sekian persen itulah potensi, selain itu adalah memobilisasi resoursis untuk itu,” kata dia.
Di sisi lain, Rizaldi juga menuturkan bahwa pendeteksian potensi kebakaran terhambat karena adanya pergeseran paradigma. Pergeseran paradigma itulah yang membuat waktu terbaik untuk melakukan pencegahan atau golden time pencegahan tidak maksimal.
“Jadi dalam konteks seperti ini tentu kita bisa melakukan langkah-langkah antisipasi yang sifatnya yang sudah, sudah terjadi, mau bagaimana,” ucapnya.
“Ini salah satu hal saja yang kita bisa coba lihat dalam konteks 5 sampai 6 bulan kedepan sebenarnya kita bisa melakukan lansis atau langkah-langkah antisipasi untuk melakukan pengaturan tata air yang lebih baik. Bagaimana jangan sampai over draine,” kata Rizaldi menambahkan.
Diketahui, karhutla kini masih melanda beberapa wilayah Indonesia, diantaranya di wilayah Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat.
Saat ini, tercatat lebih dari ribuan hektare pada enam wilayah Indonesia terjadi karhutla. Kualitas udara sudah masuk dalam kategori berbahaya. Sebab, jarak pandang hanya di bawah satu kilometer saja.









