




Penulis
Zendy Pradana
Editor
Irfan KamilJAKARTA, Probusmedia – Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin memburuk. Hal itu terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang dinilai belum mampu menciptakan lapangan kerja secara optimal.
Menurut Bhima, setiap kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen seharusnya diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja. Namun, kondisi yang terjadi saat ini dinilainya menunjukkan tren berbeda. Hal tersebut disampaikan Bhima merespons pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI.
“Setiap satu persen pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya bisa menyerap lebih dari 400-500 tenaga kerja atau tambahan dari orang yang bekerja,” kata Bhima dikutip dari akun YouTube Watchdoc, Sabtu (15/8/2026).
Bhima mengingatkan, apabila kondisi tersebut terus berlanjut, Indonesia berpotensi menghadapi penurunan kesempatan kerja. Menurut dia, salah satu penyebabnya adalah investasi yang masuk ke Indonesia lebih banyak bersifat padat modal dibandingkan padat karya sehingga tidak menghasilkan penyerapan tenaga kerja yang besar.
“Karena banyak investasi-investasi yang diklaim menarik untuk hilirisasi, untuk berbagai lapangan kerja tetapi ternyata investasi-investasi yang sifatnya padat modal dibandingkan padat karya,” ucap Bhima.
Bhima juga menyoroti pertumbuhan ekonomi yang disampaikan pemerintah di tengah persoalan pengangguran dan pemutusan hubungan kerja (PHK). Ia menyinggung data yang menunjukkan masih banyak lulusan perguruan tinggi yang belum memperoleh pekerjaan.
“Itu menunjukkan selain disparitas data soal PHK, tapi memang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, bahkan dibandingkan pada saat pasca Covid-19 ini salah satu gelombang PHK yang cukup tinggi,” ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengatakan perekonomian Indonesia tumbuh 5,61 persen pada kuartal I 2026. Sementara pada semester I 2026, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,45 persen.
Hal tersebut disampaikan Prabowo saat membacakan pidato kenegaraan di Gedung DPR/MPR RI, Jumat (14/8/2026).
Prabowo menyebut capaian tersebut sebagai pertumbuhan kuartal pertama dan semester pertama tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
“Ini adalah pertumbuhan kuartal pertama dan pertumbuhan semester pertama tertinggi dalam 13 tahun terakhir ini,” ujar Prabowo.
Dengan capaian tersebut, Prabowo menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 6 persen pada akhir 2026.
“Dengan kebijakan-kebijakan yang tepat, yang rasional, yang menggunakan akal sehat, saya yakin pertumbuhan ekonomi kita di akhir tahun ini bisa mencapai di angka 6 persen,” kata dia.
Meski demikian, Prabowo menegaskan pertumbuhan ekonomi dan investasi bukanlah tujuan akhir pemerintah. Menurut dia, pertumbuhan tersebut harus berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Saya tegaskan di hadapan majelis ini bagi saya pertumbuhan dan investasi bukan tujuan akhir. Tujuan kita adalah kesejahteraan rakyat kita,” tegas Prabowo.