JAKARTA, Probusmedia — Divisi Hukum DPP GRIB Jaya mengamini sosok dalam video yang viral di media sosial saat kericuhan usai demo di Gedung DPR/MPR RI, pada Kamis (27/8) malam merupakan pimpinannya Rosario de Marshall alias Hercules.





Penulis
Alfredo SitompulEditor
Ponco SulaksonoJAKARTA, Probusmedia — Divisi Hukum DPP GRIB Jaya mengamini sosok dalam video yang viral di media sosial saat kericuhan usai demo di Gedung DPR/MPR RI, pada Kamis (27/8) malam merupakan pimpinannya Rosario de Marshall alias Hercules.
Pengakuan tersebut disampaikan Divisi Hukum DPP GRIB Jaya, Wilson Colling, melalui klarifikasi terkait beredarnya sejumlah video yang memperlihatkan Hercules di dalam jalan tol pada malam hari itu.
Meski begitu, Wilson membantah kehadiran tersebut berkaitan dengan upaya memperkeruh keadaan, provokasi, ataupun keterlibatan dalam benturan fisik dengan peserta demo.
“Keberadaan Pak Hercules bersama sekelompok masyarakat di lokasi pada malam hari pascaperistiwa tersebut harus dilihat dalam konteks situasi keamanan dan kondisi lingkungan pada saat itu,” kata Wilson dalam keterangannya, Sabtu (29/8/2026).
Lebih jauh, dia juga menegaskan bahwa secara organisasi tidak pernah ada instruksi kepada jajaran GRIB Jaya untuk mengikuti demonstrasi ataupun melakukan kegiatan yang berkaitan dengan aksi tersebut.
“Hal yang juga perlu ditegaskan adalah bahwa secara organisatoris tidak pernah ada instruksi untuk mengikuti demonstrasi maupun melakukan kegiatan apa pun yang berkaitan dengan aksi tersebut,” tegasnya.
Wilson menilai keberadaan Hercules di lokasi tidak dapat langsung maknai sebagai keterlibatan GRIB Jaya dalam kerusuhan. Menurut dia, keterlibatan seseorang dalam tindak pidana harus dibuktikan melalui tindakan konkret dan alat bukti yang sah.
Selain itu, GRIB Jaya turut menanggapi video yang memperdengarkan seruan “pulang-pulang”. Wilson mengatakan ucapan tersebut harus dilihat berdasarkan konteks keseluruhan peristiwa.
Dia menyebut seruan tersebut dimaknai sebagai imbauan agar masyarakat meninggalkan lokasi secara tertib ketika situasi mulai tidak kondusif.
“Seruan untuk ‘pulang’ justru dapat dimaknai sebagai imbauan agar masyarakat atau massa meninggalkan lokasi secara tertib ketika situasi sudah tidak kondusif,” katanya.
Wilson meminta publik tidak untuk spontan menyimpulkan seseorang terlibat dalam kerusuhan berdasarkan potongan video