JAKARTA, Probusmedia – Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan jumlah pengungsi dari penanganan tanggap darurat gempa NTT hingga Selasa (25/8/2026). Berdasarkan pemuktahiran data BNPB tercatat jumlah warga yang mengungsi pascagempa mengalami penambahan sebanyak 4.804 pengungsi.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Berton SP Panjaitan mengatakan dengan penambahan tersebut, jumlah pengungsi saat ini sebanyak 185.131 jiwa. Ia mengatakan berdasarkan data yang diterima BNPB, Manggarai menjadi salah satu kabupaten paling banyak jumlah pengungsinya, yakni sebanyak 50.553 warga.
Kemudian terdapat Kabupaten Nagekeo dengan 50.358 warga mengungsi, lalu Manggarai Timur 31.372 orang, Manggarai Barat 27.167 jiwa, Sikka 18.833 orang, Ende 4.295 jiwa, dan Ngada 2.551 pengungsi.
“Hingga saat ini kita mendapatkan tambahan-tambahan pengungsi,”
kata Berton dalam keterangannya.
Selanjutnya, Berton juga mengatakan pemerintah terus berupaya memenuhi kebutuhan dasar dan logistik bagi korban bencana gempa NTT.
Hingga hari ini, BNPB mencatat sebanyak 117 ton bantuan dari pemerintah telah masuk ke posko pendukung logistik nasional. Bantuan tersebut nantinya didistribusikan kepada warga terdampak.
BNPB telah menyiapkan pasokan bahan kebutuhan dasar dan logistik yang disimpan di gudang dengan jumlah sebanyak 492 ton untuk dibagikan ke seluruh korban di wilayah terdampak.
Pengiriman bantuan tersebut melalui dua bandara yang ditunjuk pemerintah sebagai posko bantuan logistik, yakni Bandara Maumere dan Labuan Bajo.
“Hingga saat ini total barang yang sudah terkirim sejak 15-24 Agustus sebanyak 2.032 ton. Di Labuan Bajo sebanyak 1.035 ton dan Maumere sejumlah 505 ton,” kata dia.
BNPB telah mencatat sebanyak 84 kepala keluarga (KK) atau 237 warga yang mengungsi di GOR Samador, Maumere, Kabupaten Sikka telah Kembali ke rumah sejak Senin (24/8/2026).
“Kami juga tentu setelah pergi memfasilitasi keluarga-keluarga ini tentu dengan bahan makanan, sembako untuk dapat digunakan setelah Kembali ke rumah,” kata Berton.








