JAKARTA, Probusmedia — Pemimpin Besar Pasukan Merah Tariu Borneu Bangkule Rajakng (TBBR) Panglima Jilah meminta agar praktik berladang di wilayah Kalimantan Barat disamakan dengan upaya pembukaan lahan perkebunan dalam persoalan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang tengah terjadi belakangan ini.
Panglima Jilah menegaskan bahwa masyarakat adat tidak akan menanamkan padi di lahan gambut yang tebal.
“Di Kalimantan Barat itu, karhutla sudah sering terjadi tetapi yanh menjdi pemikiran kita itu, berladang itu yang di salahkan, berladang itu dengan perkebunan itu kadang-kadang bersamaan waktunya akhirnya berladang itu yang disalahkan,” ujar Panglima Jilah dikutip dari akun Youtube Sekretariat Presiden, Sabtu (29/8/2026).
Panglima Jilah menuturkan bahwa masyarakat adat dayak hanya akan melakukan praktik berladang di lahan mineral, bukan lahan gambut yang tebal.
“Jadi dengan waktu yang bersamaan orang-orang yang gatau bagaimana berladang, bagaimana kehidupan kami disana. Akhirnya menuduh berladang yang jadi sumber asapnya tetapi bukan,” kata dia.
Lebih lanjut, Tokoh adat Dayak itu memastikan bahwa masyarakat adat akan memonitor jika terjadi kebakaran hutan. Sehingga mereka mengetahui kebakaran terjadi murni karena kebakaran atau karena di bakar untuk membuka lahan perkebunan.
“Sebelum adanya perkebunan di Kalimantan itu sudah ada namanya berladang dari jaman dulu ribuan tahun lalu bahkan. Dan kita tidak pernah melihat namanya kejadian-kejadian seperti ini karena orang dayak tidak berladang di lahan gambut, gambutnya tebal,” tukasnya.
Baca juga:
Polisi Tetapkan 72 Tersangka KarhutlaDia menegaskan bahwa masyarakat adat dayak kerap melakukan sosialisasi melalui tokoh-tokoh adat mengenai kebakaran hutan dan lahan. Karena masyarakat adat itu identik dekat dengan alam, sehingga jika alam tidak ada atau tidak dijaga maka tidak akan ada masyarakat adat.
“Jadi kalau kita membakar dimana ladang kita dibakar disitulah kita akan monitoring juga dan itu juga pernah terjadi ada yang namanya kebakaran hutan,” tandas Panglima Jilah.
Diketahui, Panglima Jilah telah bertemu Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan pada Jumat (28/8/2026) kemarin. Pertemuan itu membahas terkait dengan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Kalimantan.







