




Penulis
Fadel PrayogaEditor
Ponco SulaksonoJAKARTA, Probusmedia — Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman mendesak pemerintah melakukan audit korporasi terhadap seluruh perusahaan yang diduga terlibat dalam kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah ditangani Mabes Polri.
Menurut Alex, audit korporasi penting untuk menghubungkan kejadian kebakaran di lapangan dengan pihak yang memiliki kewenangan mengambil keputusan di tingkat perusahaan.
Dengan mekanisme tersebut, penanganan karhutla dinilai tidak berhenti pada pemadaman api, tetapi juga menyasar potensi kesengajaan di balik terjadinya kebakaran.
“Audit korporasi ini menjembatani celah antara peristiwa kebakaran di lapangan dengan pertanggungjawaban di tingkat pengambil keputusan. Dengan audit, kita tidak hanya memadamkan api, tetapi juga memadamkan niat untuk membakar,” kata Alex di Jakarta, Senin (26/8/2026).
Baca juga:
Polisi Tetapkan 72 Tersangka KarhutlaPolitikus PDIP itu menyampaikan desakan tersebut setelah Bareskrim Polri menetapkan 72 orang sebagai tersangka dalam perkara karhutla.
Penetapan itu merupakan hasil penyelidikan terhadap 89 laporan polisi yang tersebar di sembilan wilayah hukum kepolisian daerah di Sumatera dan Kalimantan.
Sembilan wilayah tersebut meliputi Polda Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Aceh, dan Kalimantan Utara.
Alex menilai langkah penegakan hukum perlu diperkuat dengan pemeriksaan menyeluruh terhadap korporasi agar pihak yang memiliki tanggung jawab struktural tidak luput dari proses hukum.
Ia berpandangan praktik pembakaran yang melibatkan korporasi akan lebih sulit berulang apabila setiap perusahaan mengetahui aktivitasnya dapat diperiksa secara ketat dan terbuka.
Menurut dia, kepastian adanya audit serta sanksi tanpa tebang pilih dapat menciptakan efek gentar bagi perusahaan yang berpotensi melanggar aturan.
“Oleh karena itu, pemerintah harus mewajibkan audit korporasi sebagai bagian dari perpanjangan izin usaha setiap tahun. Inilah solusi nyata yang selama ini terabaikan,” katanya.
Tak hanya menelusuri kepatuhan perusahaan, Alex menyebut audit juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengungkap pihak yang berada di balik munculnya titik api.
Ia mengaitkan urgensi tersebut dengan catatan sejarah karhutla besar di Indonesia pada 1997-1998 ketika sekitar 9 juta hektare lahan di Pulau Kalimantan disebut terbakar.
“Dari audit korporasi, kita juga bisa memastikan, kepatuhan terhadap perizinan dan rencana kerja memang benar-benar dilaksanakan atau dia sekadar jadi dokumen administratif,” ujar Alex.
Alex meyakini audit yang dilakukan secara menyeluruh dapat memperjelas penerapan hukum sekaligus mendorong terciptanya efek jera bagi pelaku.
Menurut dia, penegakan hukum juga harus mempertimbangkan besarnya kerugian ekonomi dan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan akibat karhutla.
Efek jera tersebut, kata Alex, dapat diperkuat apabila kerugian yang ditimbulkan dihitung secara akurat melalui proses audit.
Dengan begitu, penanganan perkara tidak hanya berorientasi pada pelaku di lapangan, tetapi juga menyentuh tanggung jawab dan dampak ekonomi yang ditimbulkan.
Di sisi lain, audit korporasi dinilai dapat membantu memutus rantai pasokan sekaligus menghilangkan keuntungan ekonomi yang mendorong praktik pembakaran.
Langkah tersebut dinilai penting agar pembakaran lahan tidak lagi dipandang sebagai cara murah dan cepat untuk membuka area perkebunan.
“Sembari melakukan audit korporasi, kita juga mendesak pengawasan terpadu terhadap pembukaan lahan perkebunan, sebagai langkah antisipasi dalam jangka pendek,” kata Alex.
Selain penindakan, pemerintah dinilai perlu menyediakan skema yang mendorong perusahaan membuka lahan tanpa menggunakan metode pembakaran.
Bentuk dukungan tersebut dapat berupa subsidi alat berat, akses pembiayaan dengan bunga ringan, hingga kemudahan perizinan bagi perusahaan yang terbukti menerapkan praktik ramah lingkungan.
“Masyarakat juga perlu diberikan pelatihan tentang teknik pembukaan lahan mekanis. Dengan demikian, mereka tidak ikut tergoda untuk membakar,” ujarnya.