JAKARTA, Probusmedia — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mencatat 23.307 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 9.824 titik panas berada di area Hak Guna Usaha (HGU) sawit dan konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).
“Sepanjang Januari-Agustus 2026, WALHI menemukan 23.307 hotspot high confidence. Hampir 50 persen atau sebanyak 9.824 berada di area Hak Guna Usaha (HGU) sawit dan konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH),” tulis WALHI melalui akun Instagram resminya, Selasa (1/9/2026).
Selain itu, WALHI mencatat sebanyak 6.902 titik panas berdasarkan citra satelit selama periode 25-31 Agustus 2026.
Pulau Kalimantan menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi dengan 5.201 titik panas selama periode tersebut.
Kondisi tersebut turut berdampak terhadap kualitas udara. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di sejumlah wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah tercatat berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Melalui unggahan di akun Instagram resminya, WALHI juga merinci sejumlah perusahaan dengan jumlah hotspot terbanyak yang berada di area HGU sawit, antara lain:
- Kawasan Pengembangan Pangan dan Energi di Merauke, Papua Selatan, dengan 336 hotspot atau sekitar 3,3 persen.
- PT Mekar Karya Kahuripan di Ketapang, Kalimantan Barat, dengan 312 hotspot atau sekitar 3,0 persen.
- PT Sinar Karya Mandiri di Ketapang, Kalimantan Barat, dengan 254 hotspot atau sekitar 2,5 persen.
- PT Kayung Agro Lestari di Kayong Utara, Kalimantan Barat, dengan 229 hotspot atau sekitar 2,2 persen.
- PT Arjuna Utama Sawit di Katingan, Kalimantan Tengah, dengan 169 hotspot atau sekitar 1,6 persen.
- PT Ragam R.R di Kubu Raya, Kalimantan Barat, dengan 131 hotspot atau sekitar 1,3 persen.
- PT Sungai Putri Agro Sawit di Ketapang, Kalimantan Barat, dengan 126 hotspot atau sekitar 1,2 persen.
- PT Kalbar Inti Plantation di Melawi, Kalimantan Barat, dengan 116 hotspot atau sekitar 1,1 persen.
- PT Benua R.R di Kubu Raya, Kalimantan Barat, dengan 93 hotspot atau sekitar 0,9 persen.
- PT Bumi Subur Lestari di Kubu Raya, Kalimantan Barat, dengan 77 hotspot atau sekitar 0,7 persen.
- PT Panca Surya Agrindo Sejahtera di Pelalawan, Riau, dengan 73 hotspot atau sekitar 0,7 persen.
- PT Sumber Mardhika Graha di Lamandau, Kalimantan Tengah, dengan 69 hotspot atau sekitar 0,7 persen.
- PT Agro Majusejahtera di Ketapang, Kalimantan Barat, dengan 61 hotspot atau sekitar 0,6 persen.
- PT Gelora Sawita Makmur di Nagan Raya, Aceh, dengan 50 hotspot atau sekitar 0,5 persen.
- PT Globalindo Alam Perkasa di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, dengan 46 hotspot atau sekitar 0,4 persen.
WALHI juga mendata 15 perusahaan pemegang izin PBPH dengan jumlah hotspot terbanyak selama periode pemantauan, antara lain:
- PT Bumi Mekar Hijau di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, dengan 552 hotspot atau sekitar 10,0 persen.
- PT Finnantara Intiga di Sanggau, Kalimantan Barat, dengan 189 hotspot atau sekitar 3,4 persen.
- PT Inhutani III Nangapinoh di Melawi, Kalimantan Barat, dengan 188 hotspot atau sekitar 3,4 persen.
- PT Mayawana Persada di Kayong Utara, Kalimantan Barat, dengan 176 hotspot atau sekitar 3,2 persen.
- PT Hutan Ketapang Ind/DH. Kertas di Ketapang, Kalimantan Barat, dengan 142 hotspot atau sekitar 2,6 persen.
- PT Grace Putri Perdana di Ketapang, Kalimantan Barat, dengan 138 hotspot atau sekitar 2,5 persen.
- PT Hermes Sugar Indonesia di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, dengan 90 hotspot atau sekitar 1,6 persen.
- PT Kiani Lestari di Kutai Timur, Kalimantan Timur, dengan 88 hotspot atau sekitar 1,6 persen.
- PT Prima Bumi Sentosa di Ketapang, Kalimantan Barat, dengan 87 hotspot atau sekitar 1,6 persen.
- PT Inhutani I/Unit Labanan di Berau, Kalimantan Timur, dengan 83 hotspot atau sekitar 1,5 persen.
- PT Bumi Hijau Prima di Kapuas, Kalimantan Tengah, dengan 74 hotspot atau sekitar 1,3 persen.
- PT Arfak Indra di Fakfak, Papua Barat, dengan 71 hotspot atau sekitar 1,3 persen.
- PT Merbau Pelalawan Lestari di Pelalawan, Riau, dengan 68 hotspot atau sekitar 1,2 persen.
- PT Wahana Samudera Sentosa di Merauke, Papua Selatan, dengan 64 hotspot atau sekitar 1,2 persen.
- PT Wanakerta Ekalestari di Ketapang, Kalimantan Barat, dengan 61 hotspot atau sekitar 1,1 persen.






