JAKARTA, Probusmedia — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah warga yang mengungsi akibat gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) berkurang 4.142 orang.
Berkurangnya jumlah pengungsi terjadi seiring dengan menurunnya aktivitas gempa susulan setelah gempa utama mengguncang wilayah NTT pada 15 Agustus 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan hingga Minggu (30/8/2026) pukul 07.00 WIB, sebanyak 188.161 warga masih berada di sejumlah lokasi pengungsian.
“Distrik Manggarai dan Nagekeo adalah wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak,” kata Berton dalam keterangan tertulis.
Berdasarkan data BNPB, Manggarai menampung 50.556 pengungsi, sedangkan Nagekeo menampung 50.574 pengungsi.
Selain dua wilayah tersebut, jumlah pengungsi masih cukup tinggi di Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, Sikka, dan Ende.
Gempa susulan mulai menurun
Berton mengatakan BNPB memantau perkembangan gempa susulan setelah gempa utama mengguncang Pulau Flores.
Hingga 30 Agustus 2026, BMKG mencatat 9.765 gempa susulan dengan magnitudo antara 1,0 hingga 6,2.
Dari jumlah tersebut, warga merasakan 155 gempa susulan.
“Warga merasakan 155 gempa susulan. Rangkaian gempa susulan mulai menunjukkan penurunan, meskipun kita masih dapat memperkirakan gempa susulan sekitar tiga hingga empat minggu setelah gempa utama,” ujar Berton.
Oleh karena itu, BNPB meminta masyarakat tetap waspada meskipun frekuensi gempa susulan mulai menurun.
111 orang meninggal dunia
BNPB mencatat gempa yang mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026 telah menyebabkan 111 orang meninggal dunia.
Selain itu, sebanyak 1.631 warga mengalami luka-luka. Dari jumlah tersebut, 223 orang mengalami luka berat dan 1.408 orang mengalami luka ringan.
Gempa tersebut juga menyebabkan kerusakan pada 95.567 rumah.
Rinciannya, 46.161 rumah mengalami kerusakan ringan, 21.992 rumah mengalami kerusakan sedang, dan 27.414 rumah mengalami kerusakan berat.
Berton mengatakan pemerintah masih menghadapi kebutuhan mendesak untuk menyediakan hunian sementara atau lokasi relokasi bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat.
“Masih ada kebutuhan mendesak untuk menyediakan perumahan sementara atau lokasi relokasi bagi 27.414 keluarga yang rumahnya rusak parah,” kata Berton.
Pemerintah kerahkan bantuanPemerintah mengerahkan berbagai lembaga untuk menangani dampak gempa di NTT.
Sejumlah kementerian, kepolisian, dan TNI mengerahkan personel penyelamat serta mendistribusikan bantuan kepada masyarakat terdampak gempa tektonik di Laut Flores.
Presiden Prabowo Subianto juga mengunjungi NTT untuk melihat langsung penanganan bencana.
Dalam kunjungannya, Prabowo memastikan pemerintah akan terus memantau kondisi di wilayah terdampak serta mengirimkan bantuan dan peralatan yang dibutuhkan masyarakat.
Sebelumnya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga mengunjungi wilayah terdampak gempa.
Gibran menjanjikan pemerintah segera memperbaiki rumah warga yang mengalami kerusakan akibat gempa.
Pemerintah juga memastikan akan memberikan bantuan kepada seluruh korban selamat, termasuk warga yang memilih berlindung di luar lokasi pengungsian.






