JAKARTA, Probusmedia — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan ketimpangan sosial ekonomi masih menjadi tantangan yang dihadapi ibu kota. Dia menyebut Gini Ratio atau ketimpangan sosial Jakarta saat ini mencapai 0,435.
“Ada satu yang selalu menjadi beban bagi Jakarta, yaitu Gini Ratio. Sekarang ini Gini Ratio-nya 0,435,” kata Pramono, Kamis (15/10/2026).
Pramono mengatakan tingkat kemiskinan Jakarta untuk pertama kalinya berada di bawah 4 persen. Pertumbuhan ekonomi ibu kota mencapai 5,52 persen, sementara tingkat inflasinya disebut sebagai yang terendah di Jawa-Bali.
Meski begitu, Pramono menilai ketimpangan sosial ekonomi masih menjadi persoalan di Jakarta.
“Dari semua aspek yang ada, Jakarta sekarang ini secara signifikan mengalami perbaikan. Bahkan ada satu yang tidak pernah tercapai, yaitu hal yang berkaitan dengan tingkat kemiskinan,” kata Pramono.
Pramono menjelaskan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan tiga sektor utama yang tidak boleh dikurangi, bahkan perlu ditingkatkan.
Ketiga sektor tersebut, yakni pendidikan, kesehatan, dan bantuan sosial. Menurut dia, peningkatan ketiga sektor tersebut dapat mengatasi permasalahan ketimpangan sosial di Ibu Kota.
“Maka kenapa di dalam pemerintahan yang saya pimpin di Jakarta ini, ada tiga hal yang saya bilang kepada jajaran Balai Kota yang tidak boleh dikurangi, bahkan ditingkatkan. Yang pertama adalah berkaitan dengan pendidikan, yang kedua adalah kesehatan, yang ketiga adalah bantalan sosial,” katanya.
Pramono menyebut Pemprov DKI telah menyalurkan Kartu Jakarta Pintar (KJP) kepada 707.000 siswa dan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) lebih dari 15.800 mahasiswa.
Lebih lanjut, Pramono memutuskan untuk menyiapkan beasiswa kuliah untuk program Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Jakarta. Direncanakan, program tersebut membiayai sekitar 75 penerima beasiswa.
Mantan sekretaris kabinet itu meyakini hal tersebut dapat mematahkan garis keturunan bagi keluarga kategori ekonomi rendah. Terlebih, untuk melanjutkan pendidikan ke universitas di luar negeri.
“Saya meyakini, mimpi inilah yang akan menuntun anak-anak itu untuk mencapai pendidikannya yang tertinggi. Dan saya termasuk yang meyakini bahwa untuk memotong garis ketidakberuntungan dalam keluarga, adalah pendidikan,” ujarnya.






