




Penulis
Fadel PrayogaEditor
Ponco SulaksonoJAKARTA, Probusmedia — Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina meminta pemerintah bergerak cepat menyelamatkan masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ia mengingatkan pemerintah tidak boleh mengabaikan warga yang berada di wilayah terpencil atau kawasan yang aksesnya terputus akibat bencana.
“Jangan sampai ada masyarakat yang berada di tempat terpencil atau wilayah yang aksesnya terputus merasa ditinggalkan,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (15/8/2026).
Ia menegaskan keselamatan warga harus menjadi prioritas utama, terutama bagi masyarakat yang berada di kawasan rawan dan sulit dijangkau.
Politikus PDI Perjuangan itu mendesak warga yang tinggal di wilayah berisiko segera diarahkan menuju lokasi yang lebih aman, termasuk kawasan yang lebih tinggi jika kondisi mengharuskannya.
“Dalam keadaan seperti ini, keselamatan manusia harus didahulukan daripada segala sesuatu,” kata Selly.
Selain evakuasi, Selly mendorong pendataan korban dan warga terdampak dilakukan secara cepat, akurat, dan menyeluruh.
Bersamaan dengan itu, pemerintah harus memastikan kebutuhan dasar di lokasi pengungsian terpenuhi, mulai dari makanan, air bersih, obat-obatan, layanan kesehatan, tenaga medis, hingga kebutuhan pendidikan anak-anak.
Menurut Selly, anak-anak yang menjadi korban bencana tidak boleh kehilangan rasa aman maupun kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.
“Anak-anak jangan sampai kehilangan rasa aman dan kesempatan untuk belajar hanya karena mereka menjadi korban bencana,” ujarnya.
Ia juga meminta pemerintah memberikan perhatian khusus kepada lansia, perempuan, penyandang disabilitas, serta kelompok rentan lainnya yang membutuhkan perlindungan lebih.
Selly menekankan penanganan bencana tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kerja sama lintas pemerintahan.
Kabupaten terdampak, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, dan daerah lain harus saling membantu agar seluruh masyarakat memperoleh penanganan yang layak.
Menurutnya, kehadiran pemerintah tidak cukup hanya melalui bantuan material, tetapi juga harus memberikan rasa aman dan kepastian bahwa masyarakat tidak menghadapi bencana seorang diri.
“Selesaikan mereka yang masih bisa diselamatkan, kuatkan mereka yang sedang kehilangan, dan pastikan negara terus bersama masyarakat Flores sampai mereka mampu bangkit dan kembali menjalani kehidupannya,” kata Selly.
Ia menyebut, pemerintah harus terus mendampingi masyarakat hingga kondisi kembali pulih, bukan berhenti setelah bantuan darurat disalurkan.
Selain itu, penanganan bencana tidak boleh berhenti pada tahap tanggap darurat. Sebab, pemerintah harus menyiapkan langkah lanjutan agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara normal dan memiliki kemampuan untuk bangkit setelah bencana.
“Bencana tidak boleh berhenti pada respons darurat. Negara harus hadir sampai masyarakat kembali pulih dan mampu membangun kehidupannya,” ujar Selly.
Setelah masa tanggap darurat berakhir, Selly meminta pemerintah segera menjalankan program rehabilitasi dan rekonstruksi secara terukur dan cepat.
Pembangunan kembali fasilitas umum dan infrastruktur juga harus menggunakan standar ketahanan bencana yang lebih baik agar masyarakat memiliki perlindungan lebih kuat menghadapi potensi bencana berikutnya.
Selly menegaskan keselamatan dan proses pemulihan masyarakat Flores harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh pemangku kepentingan.
“Keselamatan dan pemulihan masyarakat Flores harus menjadi prioritas bersama,” ujarnya.
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 47 orang meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026).
BNPB masih melakukan kaji cepat bersama petugas gabungan untuk mendata dampak gempa dan korban di sejumlah wilayah terdampak.