JAKARTA, Probusmedia — Pengamat politik Ray Rangkuti menilai hubungan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) tidak lagi seharmonis yang selama ini digambarkan pendukung Jokowi.
Ray mengaku telah melihat tanda-tanda keretakan hubungan keduanya sejak sekitar tujuh bulan lalu.
“Sejak tujuh bulan yang lalu saya sudah menyatakan bahwa ada indikator hubungan yang retak antara Pak Prabowo dengan Pak Jokowi,”
kata Ray Rangkuti dalam podcast Probusmedia “Jokowi-Prabowo Mulai Retak, Bagaimana Nasib Gibran?” dikutip Rabu (14/10/2026).
“Pada saat itu saya menyebut ada sekitar 10 tanda. Dengan berlalunya waktu, sekarang malah menurut saya sudah bisa 15 tanda,” tambahnya.
Ray mengatakan, pandangannya sempat diragukan ketika pertama kali disampaikan.
Namun, dia menilai perkembangan politik belakangan ini semakin memperlihatkan bahwa hubungan Prabowo dan Jokowi tidak seharmonis yang digambarkan sebagian pendukung Jokowi.
Menurut Ray, dinamika hubungan keduanya juga menunjukkan perubahan sikap.
Dia melihat Prabowo yang lebih dahulu menjaga jarak dari Jokowi.
Sementara itu, dia menilai Jokowi masih berupaya memperlihatkan kedekatan dengan Prabowo.
“Kalau sebelum-sebelumnya itu posisinya adalah Pak Prabowo yang jaga jarak kepada Pak Jokowi. Di satu segi, Pak Jokowi memperlihatkan bahwa dia selalu dekat dengan Pak Prabowo. Tapi di pihak yang lain, Pak Prabowo mulai perlahan mengatur jarak dengan Pak Jokowi,” ujarnya.
Salah satu peristiwa yang disoroti Ray adalah posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam rapat kabinet.
Dia menyinggung momen ketika Gibran disebut tidak duduk bersama Prabowo, tetapi berada di kursi yang diperuntukkan bagi anggota kabinet.
Menurut Ray, peristiwa tersebut berpotensi memperkuat anggapan di lingkungan keluarga Jokowi bahwa Prabowo tidak lagi terlalu berkepentingan menjaga kedekatan dengan mereka.
Selain itu, Ray juga menyoroti potongan video yang menampilkan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi menjawab “siap” ketika ditanya mengenai kemungkinan terjadinya patahan sejarah.
Ray menafsirkan pernyataan tersebut sebagai sinyal bahwa Jokowi mulai mengambil sikap berbeda terhadap Prabowo.
“Saya bilang itu soft declaration bahwa Pak Jokowi sudah mengambil sikap berpisah dengan Pak Prabowo,” kata Ray.
Dia menilai, jika sebelumnya Jokowi terkesan terus berupaya mempertahankan kedekatan dengan Prabowo, situasi belakangan ini menunjukkan kemungkinan perubahan sikap.
Menurut Ray, momen-momen tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari dinamika hubungan politik keduanya.
Dia menilai, posisi Gibran dalam rapat kabinet menjadi salah satu peristiwa yang memperkuat dugaan adanya jarak antara Prabowo dan Jokowi.








