JAKARTA, Probusmedia — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai sudah melewati batas persoalan musiman karena dampaknya merembet ke kesehatan, lingkungan, hingga perekonomian.





Penulis
Fadel Prayoga
Editor
Irfan KamilJAKARTA, Probusmedia — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai sudah melewati batas persoalan musiman karena dampaknya merembet ke kesehatan, lingkungan, hingga perekonomian.
Anggota Komisi IV DPR Firman Soebagyo meminta Presiden Prabowo Subianto segera menetapkan karhutla sebagai bencana nasional sekaligus membentuk lembaga khusus untuk menangani persoalan tersebut.
Firman mengatakan penanganan karhutla selama ini masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari koordinasi antarlembaga yang belum optimal hingga keterbatasan personel dan armada pemadam.
Menurut dia, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran juga belum cukup kuat untuk menimbulkan efek jera.
“Dengan dampak sebesar ini, Karhutla sudah wajib ditetapkan sebagai bencana nasional oleh Presiden,”
kata Firman di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Politikus Partai Golkar itu juga mengusulkan pembentukan Badan Nasional Pengendali Karhutla yang berada langsung di bawah Kepala Negara.
Lembaga tersebut nantinya bertugas menangani pencegahan, pemadaman, penegakan hukum, hingga pemulihan lahan pascakebakaran.
Selain itu, Firman mendorong pemerintah segera menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) terkait penetapan status bencana nasional.
Dia juga meminta masyarakat dan perusahaan menjalankan prinsip zero burning atau tidak melakukan pembakaran dalam pengelolaan lahan.
“Menjaga hutan adalah menjaga napas bangsa,” kata legislator daerah pemilihan Jawa Tengah III tersebut.
Menurutnya, warga setempat dapat diberdayakan sebagai penjaga hutan dengan dukungan seragam dan honor agar turut mencegah terjadinya pembakaran.
“TNI dan Polri itu kan datang untuk memadamkan, sebaiknya masyarakat yang tinggal dikawasan rawam kebakaran hutan kita berikan seragam dan berikan honor untuk menjaga hutan sehingga pihak lain tidak berani membakar,” ujarnya.
Dalam beberapa waktu terakhir, karhutla terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dan memicu kabut asap, termasuk kawasan Bromo, Jawa Timur, serta Kalimantan Barat.
Kondisi kemarau ekstrem yang dipengaruhi fenomena El Nino turut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan sepanjang Juli hingga Agustus 2026.
Di Sulawesi Selatan, kebakaran juga dilaporkan terjadi di sejumlah daerah, seperti Kabupaten Enrekang, Tana Toraja, Toraja Utara, Kota Parepare, hingga Kota Makassar.
Kebakaran melanda lahan kering hingga kawasan permukiman, sementara kebakaran di pegunungan Gunung Nona, Kabupaten Enrekang, dilaporkan menghanguskan sedikitnya 10 hektare lahan.