JAKARTA, Probusmedia — Anggota Komisi II DPR RI Ahmad Irawan mengingatkan kepala daerah agar lebih peka dalam menyampaikan pernyataan terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Peringatan tersebut disampaikan menyusul beredarnya video Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran yang menuai kritik setelah melontarkan plesetan peribahasa saat membahas penanganan karhutla.
Irawan menyebut, karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga bencana yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Karena itu, pejabat publik perlu mempertimbangkan kondisi warga sebelum menyampaikan pernyataan di tengah situasi darurat.
“Harusnya komunikasi pejabat publik memiliki empati. Bisa memahami dan merasakan emosi dan perasaan orang lain, apalagi bagi yang terdampak langsung dengan karhutla,” ujar Irawan kepada wartawan, Senin (19/10/2026).
Politikus Partai Golkar itu menjelaskan, dampak karhutla tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, tetapi juga merambah kesehatan, aktivitas sosial, dan perekonomian masyarakat.
Menurutnya, pejabat publik harus berhati-hati dalam memilih kata-kata, terutama ketika warga masih menghadapi kabut asap dan risiko gangguan kesehatan.
Irawan menilai, pemimpin daerah memiliki tanggung jawab untuk memberikan rasa aman sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Oleh karena itu, komunikasi yang disampaikan seharusnya menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani bencana dan memberikan harapan kepada warga.
Ia juga meminta kepala daerah menghindari candaan yang berpotensi menyinggung masyarakat terdampak karhutla.
Sebaliknya, pemimpin daerah perlu menyampaikan pesan yang menenangkan serta menunjukkan komitmen untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
“Sebaiknya kepala daerah kita membangun optimisme kepada masyarakat kebakarannya akan padam,” katanya.
Ia menekankan, etika komunikasi publik harus tetap dijaga, khususnya ketika masyarakat sedang menghadapi bencana dan membutuhkan dukungan pemerintah.
Sebelumnya, potongan video Agustiar saat membahas penanganan karhutla beredar luas di media sosial.
Dalam rekaman tersebut, ia menyebut hampir 97 persen pemicu karhutla berasal dari ulah manusia, sebelum melontarkan plesetan peribahasa bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi yang kemudian menuai sorotan.
Pernyataan tersebut mendapat kritik karena dinilai tidak sensitif terhadap kondisi masyarakat yang terdampak kebakaran.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya kehati-hatian pejabat publik dalam menyampaikan pesan ketika warga menghadapi situasi krisis.






