JAKARTA, Probusmedia — Pakar Hukum Tata Negara (HTN) sekaligus Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar menyoroti tindakan Presiden Prabowo Subianto yang melabeli wartawan, LSM, dan para pengkritik sebagai londo ireng.
Zainal Arifin Mochtar atau akrab disapa Uceng mengatakan pelabelan dari Prabowo tersebut bukan julukan yang sembarangan. Menurutnya, julukan tersebut diambil dari istilah Belanda yang pernah menjajah Indonesia.
“Julukan londo ireng itu, kan bukan julukan sembarangan. Karena kita, kan punya trauma dijajah oleh Belanda, ratusan tahun, sehingga orang yang bekerja dengan Belanda itu dianggap betul-betul penghianat kelas atas,” ujar Uceng di Youtube Probus Media Digital bertajuk ‘Ketika Pemerintah Sulit Dikritik’ dikutip Jumat (9/10/2026).
Uceng menjelaskan Prabowo yang menjuluki seseorang atau kelompok dengan sebutan londo ireng sedang membangun masyarakat untuk membenci pengkritik.
“Apa, dosanya tinggi banget. Nah, ketika pemerintah memberikan gelar itu kepada para pengkritik, sebenarnya yang sedang dibangun oleh pemerintah itu adalah mencoba membangun masyarakat untuk membenci orang yang mengkritik,” kata Uceng.
“Itu adalah cara untuk menutup, kritik yang dilakukan oleh akademisi dan, mahasiswa, dan itu berbahaya,” lanjutnya.
Zmenilai Prabowo sedang mencoba membangun cara agar masyarakat hanya percaya kepadanya. Hal itu dianggap Zainal merupakan cara yang sangat bahaya.
Sebab, implikasi Prabowo tersebut justru dapat mematikan pilar-pilar demokrasi yang ada saat ini.
Prabowo Subianto sempat melontarkan julukan ‘londo iren’ untuk para jurnalis, pengamat hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM). Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam acara PKB pada akhir Juli 2026.





