JAKARTA, Probusmedia — Badan Gizi Nasional (BGN) menargetkan 5.000 hingga 10.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menerapkan metode Makan Bergizi Gratis (MBG) prasmanan hingga akhir 2026.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan penerapan metode ini bertujuan mengurangi risiko keracunan makanan dan gangguan kesehatan.
Menurutnya, hal itu sekaligus memastikan makanan yang dikonsumsi siswa tetap hangat dan sesuai dengan kebutuhan gizi.
Uji coba metode MBG prasmanan telah dilakukan di 66 dapur, yang mana bakal diperluas ke sekitar 230 dapur tambahan.
Dia menyebut hasil pelaksanaan tahap awal menunjukkan perkembangan positif karena belum ditemukan kasus keracunan selama uji coba tersebut.
“Target saya adalah sampai dengan akhir tahun, untuk mengurangi keracunan, makanan-makanan rusak, gangguan kesehatan, dan paling diminati oleh siswa ini, maka kami berharap sampai dengan akhir tahun, kita bisa implementasi MBG Prasmanan ini 5.000 sampai dengan 10.000 dapur sudah bisa mengimplementasikan ini,” ujar Sudaryono di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Sudaryono menjelaskan, metode prasmanan yang dikembangkan tidak mengharuskan seluruh siswa berkumpul di satu tempat untuk mengambil makanan.
Menurutnya, makanan dibawa dan disajikan langsung di masing-masing kelas sesuai dengan jumlah siswa.
Dia menekankan dengan cara tersebut, makanan dapat dikonsumsi dalam kondisi hangat tanpa perlu dipanaskan kembali di sekolah.
“Kalau di kelas ada 30 orang, dia bawa 30 porsi nasi, sayur, lauk, ditaruh di kelas, dia sajikan, dia makan, dia beresin, kemudian selesai. Jadi hangat-hangat, enggak perlu diangetin karena dibawanya hangat-hangat, dijaga suhunya di 60 derajat minimal,” kata Sudaryono.
Dia menambahkan sistem tersebut juga memungkinkan siswa mengambil tambahan makanan jika masih lapar, selama tetap memperhatikan takaran dan kebutuhan gizi.
Dengan demikian, siswa tetap memperoleh porsi sesuai kebutuhan, sementara makanan tambahan yang disediakan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mengurangi sisa makanan.
“Jadi orangnya dapat porsi sesuai dengan takaran gizinya tapi masih ada spare, nah spare-nya itu orang bisa, kalau masih lapar bisa nambah jadi ini, so far so good dan kami ingin ini mandatory, harus dilaksanakan seluas-luasnya terhadap semua dapur dan semua sekolah,” ujarnya.
Selain itu, Sudaryono mengatakan penerapan metode MBG prasmanan akan disesuaikan dengan jumlah siswa di masing-masing sekolah.
Untuk sekolah dengan jumlah siswa besar, seperti mencapai 3.000 orang, dapur dapat dibangun di lingkungan sekolah.
Sementara itu, sekolah dengan jumlah siswa lebih sedikit, misalnya di bawah 1.000 orang, dapat dilayani melalui dapur terpusat atau central kitchen.
Menurut Sudaryono, sistem penyajian tersebut mengacu pada praktik penyediaan makanan di sejumlah negara, termasuk Jepang dan negara-negara Eropa.
“Ini adalah best practice yang kami belajar dari banyak negara dan beberapa negara salah satunya Jepang, kemudian ada dari Eropa juga kami lihat, caranya sama. Jadi sebetulnya ini best practice bukan karangan saya,” imbuhnya.







