JAKARTA, Probusmedia — Pakar hukum tata negara, Zainal Arifin Mochtar alias Uceng menjelaskan Kemerdekaan Indonesia masih belum sepenuhnya kuat. Sebab, masih banyak masyarakat yang ketakutan dalam menyampaikan kritik.
Menurutnya, ketakutan masyarakat menyampaikan kritik tercermin dari banyaknya masyarakat yang memakai diksi Konoha. Padahal, Indonesia disebut sebagai negara demokrasi.
“Berbicara di Republik ini kan kadang-kadang orang mulai ketakutan. Saya sederhana saja, menyebutkan konoha, menyebutkan negeri antah berantah dan sebagainya. Itu kan simbolisasi dari ketakutan menyampaikan sesuatu, hingga dia harus menyamarkan,”
ujar Zainal Arifin Mochtar dalam siaran podcast di Youtube Probus Media bertajuk “Militer Masuk Sipil, Dwifungsi Kembali?” dikutip Minggu (4/10/2026).
Sehingga, Zainal Arifin menganggap perilaku tersebut menandakan kemerdekaan Indonesia masih belum sepenuhnya kuat. Termasuk, perasaan memiliki negeri ini.
“Saya mau bilang merdeka itu harusnya kita punya kondisi di mana kita bebas, itu tadi lalu kebebasan itu bisa dikonversi menjadi melakukan sesuatu tanpa paksaan apa-apa,” kata Zainal.
Dikatakan, merdekanya sebuah negara adalah saat masyarakat mampu memberikan kritik kepada pemerintah serta tak ada paksaan dalam melakukan sesuatu.
“Jadi merdeka itu kemampuan anda bebas melakukan sesuatu tapi plus pada saat yang sama tidak ada paksaan,” ucapnya.
Zainal pun menyinggung sebuah teori yang mengartikan bahwa terdapat sebuah keinginan negara yang ingin merdeka. Sehingga, jika sebuah negara ingin dianggap merdeka maka harus mengurus negaranya sendiri.
Namun, menurut Zainal hal tersebut tidak termasuk Indonesia. Sebab, Indonesia justru menindas masyarakatnya sendiri dengan mementingkan kepentingan para elite negara.







