JAKARTA, Probusmedia — Presiden Prabowo Subianto sudah berulang kali merombak menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih. Belum genap dua tahun pemerintahan, Prabowo tercatat sudah tujuh kali reshuffle kabinet.
Pakar hukum tata negara (HTN) Zainal Arifin Mochtar alias Uceng menjelaskan bahwa belum tentu menteri dan wakil menteri bisa menuntaskan masalah meski diganti ratusan kali.
Hal tersebut diungkap Zainal Arifin dalam siaran siniar atau podcast di akun Youtube Probus Media Digital berjudul “Ketika Pemerintah Sulit Dikritik’.
Zainal menyoroti terkait pergantian Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, yang kini digantikan oleh Suahasil Nazara. Menurutnya, belum tentu pergantian Menteri Keuangan akan membuat anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) akan menjadi lebih baik.
Zainal justru menjelaskan permasalahan bisa berubah atau tidaknya tetap keputusannya ada pada Presiden.
“Ya, tetapi problem yang mendasarnya, menurut saya, bukan di menteri, problem mendasarnya itu di presiden. Menteri itu hanya pembantu. Pembantu itu tidak punya kapasitas decision making yang kuat,” ujar Zainal Arifin alias Uceng dikutip Jumat (9/10/2026).
Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, menuturkan bahwa Menteri hanyalah pembantu Presiden. Menteri memiliki keterbatasan dalam mengambil sebuah kebijakan.
“Nah, dalam konteks sistem presidensial, menteri itu kan pembantu. Tergantung sama
tuannya. Tergantung sama orang yang dibantu,” kata dia.
“Tergantung sama orang yang memegang
tampuk kekuasaannya. Maka menurut saya, mau diganti berapa ratus kali menteripun, imajinasi presidennya yang menjadi penting,” lanjut Uceng.
Sehingga, Zainal menyebut belum tentu pergantian menteri dapat langsung menyelesaikam masalah yang ada. Meskipun harus mengganti menteri ratusan kali.
“Problemnya saya kira mengganti menteri seratus kali belum tentu menyelesaikan masalah. Karena yang paling penting adalah imajinasi tuannya itu tadi. Imajinasi presidennya,” ucapnya.
“Dia (Prabowo) mengganti berkali-kali kalau dia tidak memberikan direktif yang jelas, tidak memberikan arah yang jelas, tidak memerintahkan sesuatu yang lebih teknik, lebih lebih kuat, saya kira problemnya hanya akan berulang saja, berapa kalipun ganti menteri,” tandas Zainal.







