JAKARTA, Probusmedia — Pakar Hukum dan Tata Negara (HTN) sekaligus Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar menjelaskan bahwa kritik terhadap pemerintah masih harus terus dilakukan. Sebab jika tidak ada kritik, pemerintah akan senang.
Hal tersebut diungkap Zainal Arifin dalam siaran siniar atau podcast di akun Youtube Probus Media Digital berjudul ‘Ketika Pemerintah Sulit Dikritik’, yang diunggah Kamis (8/10/2026) kemarin.
Zainal mulanya menjelaskan soal banyaknya kritikan melalui aksi demonstrasi hingga penyampaian pendapat dari Koalisi Masyarakat Sipil. Meski, upaya tersebut belum didengar oleh pemerintah saat ini, namun harus tetap dilakukan.
“Karena kalau itu alasan untuk mundur dan tidak melakukannya, artinya dia makin senang. Nggak ada lagi suara berbeda, kan. Makanya tetap harus dilakukan,” ujar Zainal Arifin Mochtar dikutip Jumat (9/10/2026).
Zainal menuturkan kekuasaan akan berganti seiring berjalannya waktu. Sehingga, dia meyakini pemerintah saat ini tidak selamanya akan menjadi seorang pemimpin.
“Ini soal waktu aja. Hari ini barangkali didengar, kita berharap pemilu berikutnya kita dapat pemimpin yang lebih mau mendengar,” kata dia.
Kendati, Zainal menuturkan bahwa ada berbagai macam cara konstitusi jika ingin menjatuhkan rezim. Menurutnya, kekuasaan tidak bersifat kekal sehingga akan ada waktu kekuasaan tersebut berganti.
“Kekuasaan itu hanya sementara. Nah, maka yang harus dipersiapkan adalah kemampuan kita untuk memproduksi orang, atau mendapatkan orang, atau mendapuk orang, yang bisa menjadi penguasa yang lebih mendengar, kan,” katanya.
“Untuk menjadi penguasa yang lebih terbuka, menjadi penguasa yang lebih eh, mau
mengabsorb masukan, dan lain-lain sebagainya,” sambung Zainal alias Uceng.
Pakar Ungkap Pernyataan soal Londo Ireng
Zainal Arifin Mochtar atau akrab disapa Uceng, menjelaskan julukan dari Prabowo tersebut bukan julukan yang sembarangan. Menurutnya, julukan tersebut diambil dari istilah Belanda yang pernah menjajah kita sebelum kemerdekaan Indonesia.
“Julukan londo ireng itu, kan bukan julukan sembarangan. Karena kita, kan punya trauma dijajah oleh Belanda, ratusan tahun, sehingga orang yang bekerja dengan Belanda itu dianggap betul-betul penghianat kelas ata0s,” ujar Zainal Arifin di Youtube Probus Media Digital bertajuk ‘Ketika Pemerintah Sulit Dikritik’ dikutip Jumat (9/10/2026).
Zainal menjelaskan ketika Prabowo menjuluki seseorang atau kelompok dengan sebutan Londo Ireng, artinya pemerintah sedang membangun masyarakat untuk membenci pengkritik.
“Apa, dosanya tinggi banget. Nah, ketika pemerintah memberikan gelar itu kepada para pengkritik, sebenarnya yang sedang dibangun oleh pemerintah itu adalah mencoba membangun masyarakat untuk membenci orang yang mengkritik,” kata Zainal.
“Itu adalah cara untuk menutup, kritik yang dilakukan oleh akademisi dan, mahasiswa, dan itu berbahaya,” lanjutnya.
Zainal menilai Prabowo sedang mencoba membangun cara agar masyarakat hanya percaya kepadanya. Hal itu dianggap Zainal merupakan cara yang sangat bahaya.
Sebab, implikasi Prabowo tersebut justru dapat mematikan pilar-pilar demokrasi yang ada saat ini.
Diketahui, Prabowo Subianto sempat melontarkan julukan ‘Londo Ireng’ untuk para jurnalis, pengamat hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM). Penyampaian tersebut terjadi pada akhir bulan Juli 2026.





