Pencarian Arupadhatu 1 Dihentikan, Basarnas Masih Sisir Wilayah Bengkulu. Dok: Polri
JAKARTA, Probusmedia — Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan () menghentikan operasi pencarian kapal Arupadhatu 1 yang membawa lima jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda. Operasi pencarian dihentikan setelah Basarnas melaksanakan pencarian selama tujuh hari dan memperpanjang operasi selama tiga hari.
Menurut dia, selama tujuh hari pertama pencarian, tim menerima informasi mengenai penemuan jenazah pada 12 September 2026.
Pencarian kemudian dievaluasi hingga 14 September sebelum akhirnya diperpanjang selama tiga hari.
“Pada pelaksanaan tujuh hari tersebut kami mendapatkan informasi adanya penemuan jenazah pada tanggal 12, kemudian sampai tanggal 14 kami lakukan evaluasi dan kami perpanjang tiga hari,” katanya.
Namun, selama tiga hari masa perpanjangan, tim SAR gabungan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan korban lainnya.
“Dari tiga hari pelaksanaan perpanjangan yang kami laksanakan, tidak ada tanda-tanda korban yang kami temukan selain objek-objek yang sudah kami sampaikan pada saat di lapangan,” ujar Al Amrad.
Oleh karena itu, Basarnas kemudian melakukan tindak lanjut terhadap sejumlah objek yang ditemukan sekaligus menghentikan operasi pencarian.
Basarnas Tetap Pantau Wilayah BengkuluMeski operasi pencarian resmi telah dihentikan, Basarnas masih melakukan tindak lanjut melalui koordinasi dengan sejumlah Kantor SAR dan unsur terkait di wilayah yang diperkirakan memiliki keterkaitan dengan area pencarian.
Al Amrad mengatakan, koordinasi dilakukan dengan Kantor SAR Bengkulu dan Kantor SAR Lampung, khususnya untuk wilayah pesisir.
“Hingga saat ini kami sudah melakukan koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Kantor SAR Lampung untuk wilayah pesisir, termasuk dengan para nelayan yang ada di sekitar wilayah tersebut,” katanya.
Menurut dia, pemantauan juga masih dilakukan oleh tim gabungan di wilayah Bengkulu, termasuk di sekitar Pulau Enggano.
“Untuk wilayah Bengkulu sampai saat ini teman-teman dari tim gabungan masih melakukan penyisiran dengan informasi-informasi yang kami terima,” ujar Al Amrad.
Selain penyisiran, Basarnas juga memberikan edukasi kepada instansi terkait, nelayan, dan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir agar segera melaporkan apabila menemukan objek atau informasi yang diduga berkaitan dengan kapal Arupadhatu 1.
“Tindakan yang saat ini kami lakukan adalah koordinasi, termasuk edukasi kepada instansi terkait, nelayan dan masyarakat yang berada di wilayah pesisir, termasuk di sekitar Pulau Enggano,” katanya.
Pencarian kapal Arupadhatu 1 melibatkan unsur gabungan dari berbagai instansi dengan wilayah operasi yang mencakup perairan Banten, Lampung hingga Bengkulu.
Selama operasi berlangsung, tim SAR mengerahkan berbagai alat utama sistem (alut) untuk melakukan penyisiran di sejumlah sektor pencarian.