JAKARTA, Probusmedia — Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai terdeteksi hingga sejumlah wilayah Jakarta. Masyarakat diminta lebih waspada, meski intensitas abu diperkirakan masih tipis.
Pemprov DKI Jakarta meminta warga tidak panik, tetapi segera melakukan sejumlah langkah perlindungan diri untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik terhadap kesehatan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta Marulitua Sijabat mengatakan masyarakat perlu menyikapi kondisi tersebut dengan tenang dan tidak berlebihan.
Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan serta menjadikan informasi resmi pemerintah sebagai rujukan utama.
Marulitua menyebut berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga.
Status tersebut belum mengalami peningkatan meski aktivitas erupsi gunung api masih berlangsung.
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau tercatat berlangsung sejak Jumat (4/9/2026). Hingga Minggu (6/9/2026), pemerintah belum menetapkan adanya kenaikan status gunung api tersebut.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi pergerakan abu vulkanik yang mencapai sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
Khusus Jakarta, abu diperkirakan memiliki intensitas tipis dan penyebarannya dapat berubah mengikuti arah serta kecepatan angin.
“Yang paling penting, masyarakat tidak perlu panik. Tetap tenang, tetapi tingkatkan kewaspadaan dan ikuti informasi resmi dari pemerintah,”
kata Marulitua di Jakarta, Minggu (6/9/2026).
Marulitua menjelaskan abu vulkanik memiliki karakter berbeda dibandingkan debu yang biasa ditemui sehari-hari.
Partikel abu yang sangat halus berpotensi mengganggu saluran pernapasan, mata, dan kulit, terutama bagi masyarakat yang masuk kelompok rentan.
Karena itu, Pemprov DKI Jakarta meminta masyarakat melakukan tujuh langkah sederhana untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.
Imbauan tersebut ditujukan terutama kepada warga yang tinggal atau beraktivitas di wilayah yang terdampak sebaran abu.
- Gunakan masker saat keluar rumah
Warga disarankan mengenakan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi risiko menghirup partikel abu vulkanik.
Masker kain biasa dinilai kurang efektif dalam menyaring partikel abu yang berukuran sangat halus.
- Tutup pintu, jendela, dan ventilasi
Masyarakat diminta menutup pintu, jendela, serta ventilasi rumah apabila wilayah tempat tinggalnya terdampak abu vulkanik.
Kipas angin atau pendingin ruangan yang menarik udara dari luar juga sebaiknya dimatikan ketika kondisi udara di sekitar rumah dipenuhi abu.
- Batasi aktivitas di luar rumah
Warga dianjurkan mengurangi kegiatan di luar ruangan, terutama bayi, anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki asma, penyakit paru, atau penyakit jantung.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.
- Basahi abu sebelum dibersihkan
Jika abu vulkanik menumpuk di sekitar rumah, masyarakat diminta membasahinya terlebih dahulu sebelum melakukan pembersihan.
Abu tidak dianjurkan disapu dalam kondisi kering karena partikel halusnya dapat kembali beterbangan dan berisiko terhirup.
- Lindungi air dan makanan
Tempat penyimpanan air dan makanan perlu ditutup agar tidak terkontaminasi abu vulkanik. Air maupun makanan yang sudah terkena abu sebaiknya tidak dikonsumsi demi mencegah risiko gangguan kesehatan.
- Segera ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala berat
Masyarakat yang mengalami sesak napas berat, nyeri dada, batuk berkepanjangan, atau iritasi mata yang semakin parah diminta segera mencari pertolongan medis.
Warga dianjurkan mendatangi fasilitas kesehatan terdekat agar kondisi tersebut dapat segera ditangani.
- Hubungi Jakarta Siaga 112
Dalam kondisi darurat di wilayah Jakarta, masyarakat dapat menghubungi layanan Jakarta Siaga melalui nomor 112.
Layanan tersebut dapat digunakan untuk melaporkan keadaan darurat yang membutuhkan penanganan.
Selain langkah perlindungan diri, Pemprov DKI Jakarta mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai atau menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi.
Informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi udara di Jakarta sebaiknya diperoleh melalui sumber resmi seperti PVMBG, BMKG, BNPB, BPBD, dan Pemprov DKI Jakarta.
Pemprov DKI Jakarta juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memantau perkembangan sebaran abu vulkanik dan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Pemerintah akan menyampaikan informasi terbaru kepada masyarakat apabila terdapat perkembangan penting yang perlu diketahui.
“Jakarta tetap beraktivitas seperti biasa dengan kewaspadaan yang proporsional. Ikuti informasi resmi, lindungi diri dan keluarga, tetap tenang, tetap waspada,” ujar Marulitua.









