JAKARTA, Probusmedia — Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) mencatat elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau akrab disapa KDM unggul dari Presiden Prabowo Subianto.
Berdasarkan survei IPO yang dipublikasikan hari ini, Dedi Mulyadi meraih hasil 33,7 persen, sementara Prabowo yang hanya mendapat 14,5 persen.
Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Bima Arya Sugiarto mengatakan bahwa hasil survei tersebut masih harus dicermati lebih dulu kredibilitasnya. Salah satu yang harus dicermati yakni kredibilitas dari lembaga surveinya.
“Nah, jadi sebelum memberikan penilaian, ya kita harus pastikan lembaga surveinya itu metodologinya tepat atau tidak. Itu pertama,” ujar Bima Arya di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Pusat, Sabtu (24/10/2026).
Bima mengatakan bahwa PAN saat ini fokus mengawal pemerintahan Prabowo Subianto sampai tuntas. Ia memastikan belum ada skenario lain terkait dukungan pada calon presiden di Pilpres 2029.
“PAN ini kan juga hari ini ada dalam komitmen koalisi pemerintahan. Jadi, fokus PAN kali ini ya tentu adalah mengawal pemerintahan Prabowo sampai di ujung kira-kira gitu. Ya, belum ada skenario yang lain. Belum ada skenario yang lain,” kata Bima.
Berdasarkan hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Mulyadi meraih 33,7 persen, mengungguli Presiden Prabowo Subianto yang memperoleh 14,5 persen.
Pada posisi ketiga terdapat nama mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan elektabilitas 11,3 persen.
Sementara itu, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berada di urutan berikutnya dengan 4,3 persen, diikuti politikus PDI Perjuangan (PDIP) Ganjar Pranowo sebesar 4,1 persen.
“Di bawah Ganjar, terdapat Gibran Rakabuming Raka dengan 3,7 persen, Mahfud MD sebesar 2,9 persen, dan Pramono Anung mencapai 2,5 persen. Adapun Serly Tjoanda memperoleh 2 persen, Erick Thohir 1,9 persen, serta Andi Amran Sulaiman sebesar 1 persen,” kata Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah dalam siaran daring Sabtu (24/10/2026).
Sejumlah tokoh lainnya mencatatkan angka di bawah 1 persen, yakni Zulkifli Hasan sebesar 0,9 persen, Susi Pudjiastuti dan Khofifah Indar Parawansa masing-masing 0,5 persen, serta Bahlil Lahadalia dan Anwar Hafid masing-masing 0,2 persen.
“Sementara itu, sebanyak 15,8 persen responden masuk kategori TT/TJ/RHS, yang dalam survei merujuk pada jawaban tidak tahu, tidak menjawab, atau rahasia,” ujarnya.
Ia menyebut Dedi memiliki keunggulan elektabilitas yang cukup signifikan dibandingkan tokoh-tokoh lainnya. Di sisi lain, suara untuk kandidat lain masih tersebar dan belum terkonsolidasi pada satu figur penantang utama.
Survei IPO menggunakan metode multistage random sampling dengan melibatkan 1.200 responden. Penentuan jumlah sampel mengacu pada perhitungan Cochran (1977), Kish (1965), dan Fowler (2014), dengan tingkat kepercayaan 95 persen serta margin of error sekitar ±2,9 persen.







