Penulis
Langgeng PujiEditor
Ponco SulaksonoJAKARTA, Probusmedia — Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyebut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebagai ‘panglima pangan’ yang memimpin upaya pemerintah mewujudkan swasembada pangan nasional.
Penyebutan itu disampaikan Prasetyo saat menghadiri Rapat Koordinasi Percepatan Pengembangan Bioetanol bersama 44 bupati dari berbagai daerah sentra produksi, Senin (21/9/2026).
Prasetyo mengapresiasi kerja Amran bersama jajaran Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, dan petani dalam mempercepat pencapaian swasembada pangan.
“Mumpung panglima pangan (Mentan Amran) yang perintahkan, kita ikut,” kata Prasetyo dikutip Selasa (22/9/2026).
Dia menegaskan pemerintah akan memberikan dukungan regulasi maupun anggaran terhadap berbagai program strategis di sektor pertanian.
“Selama Pak Mentan membutuhkan dukungan regulasi, tentu menjadi tugas dan tanggung jawab kami di Kementerian Sekretariat Negara untuk memproses secepat-cepatnya. Demikian juga dukungan APBN,” ujarnya.
Menurut Prasetyo, pangan merupakan salah satu prioritas utama Presiden Prabowo Subianto.
“Salah satu fokus utama Presiden selain keamanan adalah pangan. Jadi apa pun yang dibutuhkan untuk memastikan pangan terjamin, pemerintah akan mendukung,” kata dia.
Prasetyo mengungkapkan bahwa dirinya telah melaporkan kepada Presiden Prabowo mengenai rencana percepatan pengembangan bioetanol berbasis tebu, singkong, dan jagung.
Program tersebut disiapkan sebagai bagian dari strategi pemerintah mendorong kemandirian energi nasional.
Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Amran mengatakan pemerintah telah memperkuat fondasi swasembada pangan dan kini mulai memasuki tahap pengembangan bioetanol.
“Pangan kita selesaikan, biodiesel kita selesaikan, sekarang kita masuk ke bioetanol. Mimpi besar kita adalah setiap pulau mandiri pangan dan mandiri energi,” kata Amran.
Amran menyebut sejumlah indikator sektor pertanian menunjukkan tren positif, termasuk Nilai Tukar Petani (NTP), produksi pertanian, dan ekspor.
Dia juga mengatakan pengembangan bioetanol berbasis tebu menjadi salah satu fokus karena komoditas tersebut dapat diarahkan untuk produksi gula maupun etanol sesuai kondisi pasar.
“Seperti Brasil, tebu bisa menjadi gula dan bisa menjadi etanol. Semua potensi itu kita miliki. Persoalannya tinggal bagaimana kita bergerak bersama untuk mengoptimalkannya,” ujarnya.
Amran menilai dukungan pemerintah daerah diperlukan untuk mempercepat pengembangan bioetanol.
Oleh karena itu, rapat yang diikuti 44 bupati tersebut menjadi bagian dari upaya membangun komitmen bersama untuk mengembangkan komoditas bioetanol sesuai potensi masing-masing daerah.