JAKARTA, Probusmedia — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan lima kawasan peternakan terintegrasi akan dikebut rampung tahun 2027. Kawasan peternakan ini salah satunya untuk menopang kebutuhan program makan bergizi gratis (MBG).
Amran menyebut pembangunan kawasan peternakan itu mencakup rantai produksi dari hulu hingga hilir, mulai dari pakan, bibit ayam atau day-old chick (DOC), budi daya ayam, produksi telur, hingga pengembangan sapi perah dan susu.
“Pemerintah mempercepat pembangunan ekosistem peternakan terintegrasi dari hulu hingga hilir untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjamin ketersediaan ayam, telur, dan susu bagi kebutuhan nasional,” kata Amran dalam keterangannya Senin (28/9/2026).
Lima kawasan yang dibangun pada tahap awal berada di Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo. Untuk pembangunan lima kawasan tersebut, pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp2,2 triliun.
Amran mengatakan pemerintah secara keseluruhan menyiapkan sekitar Rp17 triliun untuk pengembangan ekosistem peternakan di sejumlah wilayah.
“Lima pabrik pakan, DOC (day-old-chick) dan seterusnya itu selesai tahun depan. Insya Allah, lima (kawasan) ini diresmikan tahun depan,” ujar Amran.
Menurut Amran, dukungan anggaran dan administrasi untuk pembangunan lima kawasan tersebut telah diselesaikan. Ia terus mendorong percepatan pekerjaan di lapangan.
“Sudah bor-bor. Targetnya tahun depan selesai. Administrasinya sudah selesai, anggarannya juga sudah selesai. Yang penting selesai dulu,” kata dia.
Pakan dan DOC dibangun di kawasan
Konsep kawasan peternakan terintegrasi tersebut tidak hanya berfokus pada produksi ayam dan telur.
Pemerintah juga menyiapkan fasilitas pabrik pakan serta pembibitan ayam atau DOC agar kebutuhan produksi dapat dipenuhi dari kawasan yang sama atau wilayah sekitarnya.
Menurut Amran, kedekatan antara sentra produksi jagung dan peternakan dapat memangkas biaya distribusi pakan.
Jagung yang menjadi bahan baku pakan akan dipasok dari daerah produksi di sekitar kawasan peternakan.
“Ayam butuh pakan. Pakannya dari jagung. Jagung ini nanti dari Bone, Soppeng, kabupaten tetangga, dari mana saja. Karena ini yang menjadi pakan nanti,” ujar Amran.
Dia mencontohkan, pembangunan pabrik pakan di dekat sentra produksi jagung dapat mencegah terjadinya distribusi berulang yang membuat biaya logistik semakin tinggi.
“Jadi, dari hulu ke hilir ini holistik. Itu murah. Daripada jagung ini dikirim ke Surabaya, dikirim ke Jakarta, setelah jadi pakan dikembalikan,” katanya.
Selain pabrik pakan, fasilitas DOC juga disiapkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan bibit dari wilayah lain.
“Pabrik pakan juga akan dibangun lengkap DOC-nya, anak ayam. Tidak perlu lagi mengambil ke mana-mana. Ambil dari sini. Lengkap,” kata Amran.
Untuk pasokan MBG
Pembangunan kawasan peternakan tersebut juga diarahkan untuk mendukung kebutuhan bahan pangan bergizi dalam program MBG.
Amran mengatakan, program tersebut nantinya dapat menjadi penyerap atau pembeli utama (off-taker) produk peternakan yang dihasilkan dari kawasan tersebut.
“Dari hulu ke hilir ini holistik. Ada MBG menjadi off-taker ayam, telur, susu. Kemudian, di sini produksi telur, ayam, susu,” ujar dia.
Selain ayam dan telur, pemerintah mendorong pengembangan sapi perah untuk meningkatkan produksi susu nasional.
Amran menilai peningkatan pasokan susu penting untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak.
“Peternakan sapi itu sapi perah, susu. Kan butuh susu anak-anak supaya tinggi besar nanti,” katanya.
Dia menambahkan, pengembangan produksi ayam, telur, dan susu tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam jangka pendek.
Menurut Amran, peningkatan konsumsi pangan bergizi juga berkaitan dengan upaya pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Kenapa? Minum susu, telur, ayam dan seterusnya. Itu mimpi Bapak Presiden. Generasi kita adalah generasi cerdas nanti ke depan, sehingga mencapai Indonesia Emas,” ujar Amran.




