JAKARTA, Probusmedia — Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan nelayan untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung.
Imbauan tersebut disampaikan setelah Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Suwarno, mengatakan erupsi masih berlangsung hingga laporan pengamatan dibuat.
“Durasi letusan masih menerus sampai laporan ini dibuat,” kata Suwarno dalam keterangan yang diterima Sabtu (5/9/2026).
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau periode Jumat pukul 18.00-24.00 WIB, erupsi yang berlangsung sekitar 1 jam 30 menit sejak pukul 23.07 WIB tersebut diinterpretasikan sebagai lava fountain atau lava air mancur.
Suwarno mengatakan, petugas mengamati asap kawah berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas sedang hingga tebal.
Asap tersebut mencapai ketinggian sekitar 100 hingga 400 meter di atas puncak kawah.
Selain itu, Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau mencatat enam kali gempa letusan dengan amplitudo 19-70 milimeter dan durasi 29 hingga 3.153 detik.
Petugas juga mencatat delapan kali gempa hembusan dengan amplitudo 12-27 milimeter dan durasi 20-43 detik.
Kemudian, tercatat 39 kali gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 7-31 milimeter dan durasi 6-19 detik serta 35 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 7-43 milimeter dan durasi 7-20 detik.
“Tremor menerus (microtremor) juga masih terekam dengan amplitudo 1-60 milimeter dan dominan pada 25 milimeter,” ujar Suwarno.
Status Gunung Anak Krakatau Level III Siaga
Suwarno menjelaskan, peningkatan aktivitas vulkanik pada awal Juli menjadi dasar Badan Geologi menaikkan status Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).
Meski aktivitas vulkanik meningkat, kondisi Gunung Anak Krakatau masih dapat dipantau dengan menerapkan langkah mitigasi sesuai rekomendasi PVMBG.
Oleh karena itu, PVMBG meminta masyarakat dan wisatawan tidak mendekati kawasan gunung api dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi.
Imbauan tersebut juga berlaku bagi nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda.
Nelayan diminta terus memantau informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Mereka juga diminta memperhatikan kondisi cuaca sebelum melaut.
Langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko yang dapat muncul akibat erupsi, termasuk lontaran material vulkanik.
PVMBG juga meminta masyarakat mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari Badan Geologi serta tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.








