JAKARTA, Probusmedia — Kinerja sejumlah menteri di Kabinet Merah Putih mendapat sorotan dalam survei Indonesia Political Opinion (IPO).
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menjadi menteri yang paling banyak dinilai bekerja buruk. Sedangkan Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanagara menempati posisi teratas sebagai menteri yang paling jarang dikenal publik.
Berdasarkan hasil survei IPO, Raja Juli memperoleh penilaian negatif sebesar 36,6 persen. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan menteri lain dalam daftar dengan basis respons sebesar 67,5 persen.
Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menempati posisi kedua dengan 21,8 persen responden yang menilai kinerjanya paling buruk.
Selanjutnya, Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo memperoleh 9,4 persen dan Menteri Koperasi Ferry Juliantono sebesar 8,3 persen.
“Sementara itu, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nusron Wahid mendapatkan 6,5 persen. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli memperoleh 5,7 persen, disusul Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti sebesar 5,3 persen,”
kata Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah dalam siaran daring Sabtu (24/10/2026).
Adapun Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin memperoleh 4,2 persen. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mencatatkan 3,9 persen, sedangkan kategori tidak tahu atau tidak menjawab mencapai 32,5 persen.
Di sisi lain, survei IPO juga mengukur tingkat pengenalan publik terhadap para menteri di Kabinet Merah Putih. Hasilnya, Menteri Iftitah menjadi nama yang paling banyak tidak dikenal atau jarang diperhatikan masyarakat, dengan angka mencapai 82,5 persen.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi berada di urutan berikutnya dengan 79,2 persen. Sementara itu, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini memperoleh 63,4 persen.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (BKKBN) Wihaji mencatatkan angka 52 persen. Adapun Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mencapai 51,7 persen.
Selanjutnya, Menteri Luar Negeri Sugiono memperoleh 38,9 persen dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto sebesar 36,5 persen. Menteri P2MI Mukhtarudin mencatatkan 30,7 persen, sedangkan Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mencapai 28,5 persen.
“Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjadi nama dengan angka terendah dalam daftar tersebut, yakni 21,6 persen. Adapun kategori tidak tahu atau tidak menjawab mencapai 36,1 persen, dengan basis respons sebesar 63,9 persen,” ujarnya.
Dalam paparan tersebut, IPO menyebut penelitian menggunakan metode multi-stage random sampling dengan melibatkan 1.200 responden. Survei ini digelar dari 12-20 Oktober.
Survei itu mengacu pada rumus Cochran (1977), Kish (1965), dan Fowler (2014), dengan margin of error sebesar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Proses pengambilan sampel dilakukan secara bertahap, dimulai dari pemilihan desa atau kelurahan sebagai Primary Sampling Unit (PSU). Setelah itu, peneliti memilih lima rukun tetangga (RT) secara acak di setiap desa terpilih, kemudian dua kepala keluarga (KK) dari setiap RT, sebelum menentukan satu anggota keluarga sebagai responden.
Responden dipilih dari anggota keluarga berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah, dengan pembagian responden laki-laki dan perempuan sebesar 50:50. Penelitian tersebut juga mengecualikan keluarga aktif TNI dan Polri dari pemilihan responden.








