JAKARTA, Probusmedia — Survei Center of Economic and Law Studies (CELIOS) bersama dengan Kabinet Bayangan menyatakan bahwa 75 persen responden merasa stres dengan kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira melalui diskusi daring mengenai ‘Peluncuran Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran’ pada Minggu (11/10/2026) malam.
Bhima menjelaskan bahwa survei tersebut melibatkan 1.142 responden yang tersebar di sejumlah provinsi. Kemudian, survei tersebut turut menanyakan terkait perasaan responden terhadap kebijakan-kebijakan era Prabowo-Gibran.
“Jawabannya adalah 75% itu merasa stres dengan kebijakan pemerintah dan spesifik 67% stres dengan perilaku dari Prabowo Subianto,” ujar Bhima melalui diskusi daring, Minggu malam.
Bhima menyebut pihaknya turut menanyakan terkait dengan gaya komunikasi kepemimpinan Prabowo kepada 129 ahli. Para ahli menyatakan bahwa komunukasi publik Prabowo tidak memadai.
“Kemudian kepemimpinan dan komunikasi publik, persepsi ahli terhadap kapasitas kepemimpinan presiden 71%, ini yang ditanya adalah pada ahli, pada 129 ahli menjawab 71% kapasitas kepemimpinan tidak memadai,” katanya.
“Kemudian Presiden lagi ditanya terkait dengan persepsi ahli terhadap gaya kepemimpinan dan komunikasi, 83% khawatir, ya sangat khawatir, 10% khawatir, jadi ada 93% yang menjawab khawatir dan sangat khawatir terkait dengan gaya kepemimpinan dan komunikasi,” sambung Bhima.
Nilai Rendah Pemerintahan Prabowo-Gibran
Dalam hal ini, Kabinet Bayangan dan Celios merilis kinerja dua tahun Presiden Prabowo Subianto. Prabowo mendapat skor 2,8/10 dari para ahli. Sedangkan penilaian masyarakat umum mencapai 4,6/10.
Kemudian, Wapres Gibran Rakabumimg Raka hanya mendapat skor di bawah lima selama 2 tahun pemerintahan. Hal itu tertuang pada rilis hasil kinerja dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Pada rilis tersebut, survei melibatkan 129 responden ahli dari berbagai latar belakang hingga wilayah domisili, serta pengalaman profesional yang beragam. Survei tersebut juga melibatkan 1.142 responden yang tersebar di berbagai provinsi.
Pengumpulan data dilakukan mulai dari 15 September hingga 9 Oktober 2026. Survei ini menggunakan pendekatan non-probability sampling melalui Meta Ads terhadap masyarakat umum.
Namun, untuk responden ahli, survei menggunakan snowball sampling untuk menjangkau responden dengan keahlian yang relevan.






