JAKARTA, Probusmedia — Pakar Hukum dan Tata Negara (HTN) sekaligus Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar alias Uceng menyoroti anggaran jumbo program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Uceng mempertanyakan keputusan Presiden Prabowo Subianto yang lebih mengutamakan alokasi anggaran jumbo untuk MBG ketimbang untuk program kuliah gratis.
Hal tersebut diungkap Zainal Arifin dalam siaran siniar atau podcast di akun Youtube Probus Media Digital berjudul ‘Ketika Pemerintah Sulit Dikritik’. Rekaman siniar tersebut diunggah pada Kamis (8/10/2026) kemarin.
Zainal menjelaskan bahwa masih banyak publik yang bertanya-tanya mengenai besarnya anggaran untuk program MBG tersebut.
“Saya kira, banyak sekali pertanyaan khususnya dengan anggaran-anggaran yang jumbo itu, kan. Salah satu yang paling apa, perdebatan yang besar ya anggaran jumbo, MBG,” ujar Uceng dikutip Jumat (9/10/2026).
Uceng heran mengapa anggaran jumbo ratusan triliun untuk MBG tidak dialokasikan sebagian besarnya untuk biaya kuliah gratis.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto sempat menyatakan bahwa anggaran kuliah gratis membutuhkan biaya sebanyak Rp93,7 triliun.
“Kan, menjadi menarik, kenapa negara memilih untuk melanjutkan MBG sampai ratusan triliun dibanding untuk menggratiskan pendidikan yang cuma 96 triliun, kan? Itu kan menjadi menarik,” kata Uceng.
Jika Kritik Dihentikan Penguasa Bakal Senang
Lebih lanjut, Uceng menjelaskan bahwa kritik terhadap pemerintah masih harus terus dilakukan. Sebab, jika tidak ada kritik maka pemerintah akan senang.
Hal tersebut diungkap Uceng dalam siaran siniar atau podcast di akun Youtube Probus Media Digital berjudul ‘Ketika Pemerintah Sulit Dikritik’. Rekaman siniar tersebut diunggah pada Kamis (8/10/2026) kemarin.
Uceng mulanya menjelaskan soal banyaknya kritikan melalui aksi demonstrasi hingga penyampaian pendapat dari Koalisi Masyarakat Sipil. Meski, upaya tersebut belum didengar oleh pemerintah saat ini, namun harus tetap dilakukan.
“Karena kalau itu alasan untuk mundur dan tidak melakukannya, artinya dia makin senang. Nggak ada lagi suara berbeda, kan. Makanya tetap harus dilakukan,” ujarnya.
Uceng menyebut kekuasaan akan berganti seiring berjalannya waktu. Ia berharap pada pemilu selanjutnya masyarakat mendapat pemimpin yang mau mendengar.
“Ini soal waktu aja. Hari ini barangkali didengar, kita berharap pemilu berikutnya kita dapat pemimpin yang lebih mau mendengar,” kata dia.
Uceng pun mengungkapkan bahwa ada berbagai macam cara konstitusi jika ingin menjatuhkan rezim. Menurutnya, kekuasaan tidak bersifat kekal sehingga akan ada waktu kekuasaan tersebut berganti.
“Kekuasaan itu hanya sementara. Nah, maka yang harus dipersiapkan adalah kemampuan kita untuk memproduksi orang, atau mendapatkan orang, atau mendapuk orang, yang bisa menjadi penguasa yang lebih mendengar, kan,” katanya.
“Untuk menjadi penguasa yang lebih terbuka, menjadi penguasa yang lebih eh, mau
mengabsorb masukan, dan lain-lain sebagainya,” sambung Zainal alias Uceng.





