JAKARTA, Probusmedia — Para anak perempuan Indonesia memilik peluang besar untuk menjadi seorang pemimpin. Jabatan strategis di lembaga swasta, BUMN, BUMD, hingga pemerintahan pun dapat diemban oleh seorang perempuan.
Berasal dari ruang pengambilan keputusan yang selama ini lebih banyak ditempati orang dewasa, anak perempuan dapat belajar bahwa suara dan gagasannya juga layak didengar.
Melihat peluang tersebut, Plan Indonesia melalui Girls Takeover akan memberikan kesempatan untuk ratusan anak perempuan dapat mengambil alih peran pemimpin di berbagai sektor, mulai dari pemerintahan hingga lembaga strategis lainnya. Upaya tersebut dilakukan Plan Indonesia dalam memperingati satu dekade program Girls Takeover.
Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti mengatakan bahwa Girls Takeover sudah dilaksanakan sejak tahun 2016. Setidaknya sudah tujuh posisi menteri dan lebih dari 40 posisi strategis di berbagai lembaga, termasuk MRT Jakarta dan sejumlah kedutaan besar, telah diambil alih oleh anak perempuan melalui program tersebut.
Pengalaman memimpin selama satu hari menjadi bagian dari perjalanan mereka mengenal dunia kepemimpinan sekaligus menyampaikan pandangan mengenai berbagai persoalan yang memengaruhi kehidupan anak perempuan.
“Girls Takeover lebih dari sekadar anak perempuan menggantikan seorang pemimpin selama satu hari. Yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi ketika mereka berada di dalam ruangan tersebut, ketika suara mereka didengar, perspektif mereka dipertimbangkan, dan mereka mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kapasitas kepemimpinannya. Tantangannya sekarang adalah memastikan kesempatan menjadi bagian dari perjalanan mereka untuk terus memimpin dan mendorong perubahan,” ujar Dini dalam diskusi media perayaan 10 tahun Girls Takeover di Perpustakaan Heka Leka, Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Minggu, (11/10/2026).
Selanjutnya, kata Dini, pengalaman mengambil alih posisi pemimpin diharapkan dapat menjadi awal bagi anak perempuan untuk terus mengembangkan potensi mereka.
Sebab, perjalanan menuju kepemimpinan membutuhkan lebih dari sekadar keberanian untuk berbicara. Ada akses pendidikan, kesempatan belajar, dan dukungan lingkungan yang turut menentukan sejauh mana mereka dapat berkembang.
Dini menilai upaya mendorong lebih banyak perempuan menjadi pemimpin pada masa mendatang perlu dimulai sejak usia muda. Dengan membangun jalur kepemimpinan sejak dini, semakin banyak anak perempuan diharapkan memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan mempersiapkan diri mengambil peran yang lebih besar.
Salah satu kelompok yang menjadi perhatian Plan Indonesia adalah anak perempuan usia remaja dan perempuan muda. Pada fase ini, akses terhadap pendidikan dan kesempatan untuk mengembangkan diri berperan penting dalam menentukan pilihan mereka pada masa depan.
Dini mengatakan masih ada anak perempuan yang menghadapi kendala untuk melanjutkan pendidikan, terutama pada jenjang sekolah menengah hingga perguruan tinggi.
“Oleh karena itu memang Plan fokusnya adalah di adolescent girls dan ya, remaja dan anak muda perempuan. Karena memang secara data mereka masih juga banyak apa yang mengalami kesulitan untuk akses, opportunity gitu ya. Apakah itu termasuk misalnya pendidikan, tadi saya katakan untuk level SMA, SMK itu masih hampir 20% anak perempuan yang usia itu belum sekolah ya sampai SMA, SMK, apalagi perguruan tinggi,” kata dia.
Dini menyebut bahwa kesempatan untuk melanjutkan pendidikan menjadi salah satu faktor yang dapat membantu anak perempuan mengembangkan kapasitas diri, memperluas wawasan, dan mempersiapkan masa depan.
Namun, pengalaman anak perempuan tidak selalu sama. Kondisi ekonomi keluarga dan lingkungan tempat tinggal, misalnya, turut memengaruhi kesempatan mereka untuk mengakses pendidikan dan menentukan jalan hidup.
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 menunjukkan, anak perempuan dari keluarga dengan tingkat pengeluaran terendah hampir tiga kali lebih berisiko menikah sebelum usia 18 tahun dibandingkan anak perempuan dari keluarga dengan tingkat pengeluaran tertinggi.
Sementara itu, anak perempuan yang tinggal di perdesaan tercatat dua kali lebih berisiko mengalami perkawinan anak dibandingkan mereka yang tinggal di perkotaan.
“ini adalah masa kritikal kita bicara di kepemimpinan anak remaja, terus perempuan muda di mana hal-hal yang berpengaruh terhadap pendidikan mereka, kesehatan mereka, mempengaruhi bukan hanya mereka sendiri tetapi generasi berikutnya,” kata Dini.
Karena itu, upaya membuka ruang kepemimpinan bagi anak perempuan perlu berjalan beriringan dengan dukungan terhadap pendidikan, kesehatan, dan perlindungan mereka. Dengan dukungan tersebut, kesempatan yang diperoleh melalui program seperti Girls Takeover diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pengembangan diri yang berkelanjutan.
Manfaat dari kesempatan memimpin juga dapat terlihat dari perjalanan para peserta setelah mengikuti program. Belinda, yang mengikuti Girls Takeover di MRT Jakarta pada 2023, misalnya, melanjutkan langkahnya dengan mengejar kesempatan pendidikan hingga memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi di Singapura.
Menurutnya, pengalaman mengikuti program tersebut membuatnya lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat sekaligus membuka pandangannya mengenai kesempatan anak perempuan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan.
“Girls Takeover membuat saya menyadari bahwa saya juga punya hak untuk berada di ruang-ruang pengambilan keputusan. Setelah pengalaman itu, saya menjadi lebih berani untuk menyampaikan pendapat dan mencari kesempatan untuk terus belajar. Beasiswa untuk melanjutkan studi menjadi salah satu kesempatan yang kemudian saya kejar, dan pengalaman Girls Takeover menjadi salah satu hal yang menguatkan saya untuk berani mengambil langkah tersebut,” ujar Belinda, alumni Girls Takeover MRT Jakarta 2023.
Sementara itu, Mala, peserta Girls Takeover yang mengambil alih posisi Menteri BUMN pada 2021, membawa pengalaman tersebut sebagai bagian dari perjalanan kepemimpinannya. Bagi Mala, kesempatan itu memberinya pemahaman bahwa kepemimpinan juga berkaitan dengan keberanian menyampaikan pandangan dan mengambil bagian dalam mendorong perubahan.
“Ketika saya mengikuti Girls Takeover, saya belajar bahwa kepemimpinan adalah tentang keberanian untuk menyampaikan apa yang kita lihat dan apa yang ingin kita ubah. Pengalaman tersebut membuat saya semakin percaya bahwa anak perempuan perlu diberi kesempatan untuk terlibat dan menjadi bagian dari prosesnya,” tutur Mala, alumni Girls Takeover Menteri BUMN 2021.
Pengalaman para alumni tersebut turut memperlihatkan bagaimana kesempatan untuk terlibat dalam ruang kepemimpinan dapat menjadi salah satu bekal bagi anak perempuan dalam mengambil langkah berikutnya.
Bukan hanya peserta yang memperoleh pembelajaran. Institusi yang terlibat juga mendapat kesempatan untuk memahami perspektif anak perempuan dan generasi muda secara lebih dekat. Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta (Perseroda), Weni Maulina, mengatakan keterlibatan anak perempuan melalui Girls Takeover memberikan sudut pandang tambahan bagi institusi dalam memahami kebutuhan masyarakat.
“Bagi MRT Jakarta, Girls Takeover menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana perspektif kaum muda termasuk perempuan, dapat memperkaya cara kami memahami kebutuhan dan pengalaman masyarakat. Kami belajar bahwa memberikan ruang kepada anak perempuan adalah tentang kesiapan institusi untuk mendengar dan belajar dari mereka. Kami berharap ruang-ruang seperti ini dapat terus dibuka secara bermakna,” ungkap Weni.
Perayaan satu dekade Girls Takeover bertepatan dengan Hari Anak Perempuan Sedunia yang diperingati setiap 11 Oktober. Untuk menandai perjalanan tersebut, Plan Indonesia berkolaborasi dengan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu menghadirkan pameran foto bertajuk 10 Years of Girls Takeover.
Pameran yang mendokumentasikan perjalanan program sejak 2016 itu dapat dikunjungi secara gratis pada 11 Oktober 2026 di koridor depan Perpustakaan Heka Leka, Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, yang dikelola oleh PT Integrasi Transit Jakarta, anak perusahaan PT MRT Jakarta (Perseroda).
Sepuluh tahun perjalanan Girls Takeover menjadi pengingat bahwa kepemimpinan perempuan dapat mulai dibangun sejak usia muda.
Memberikan kesempatan kepada anak perempuan untuk menyampaikan gagasan dan terlibat dalam pengambilan keputusan merupakan salah satu langkah untuk membantu mereka mengenali potensi diri dan mempersiapkan masa depan.
Pada akhirnya, yang ingin dibangun bukan sekadar pengalaman menjadi pemimpin selama satu hari, melainkan kesempatan bagi anak perempuan untuk terus belajar, berkembang, dan mengambil peran dalam menentukan perubahan yang mereka inginkan.






